Jumat, 16 Oktober 2020

Muslimah Sebagai Rahim Kehidupan


Dinamika interaksi diantara masyarakat dunia saat ini melahirkan berbagai perubahan budaya. Perubahan tersebut tidak hanya menyentuh persoalan teknis dan instrumental semata, tetapi juga telah merombak isu-isu subtsansial dalam tatanan kehidupan manusia, diantara perubahan tersebut ditandai dengan semakin meningkatnya jumlah wanita yang memasuki lapangan pekerjaan. Wanita karir kemudian menjadi sebuah cita-cita bagi para kaum hawa di zaman milenial ini sehingga banyak yang berupaya untuk menunjukan eksistensi diri di berbagai bidang
 pekerjaan.

Pada hakikatnya, Islam tidak membatasi para muslimah untuk berkarir, Islam hanyalah memberi panduan kepada para muslimah dalam bekerja dan berkarya agar mereka tidak lupa dengan fitrah serta peran mereka selaku seorang anak perempuan, seorang istri maupun seorang ibu bagi anak-anaknya kelak. Ungkapan muslimah sebagai rahim kehidupan sangat layak untuk disandang, mengingat peran muslimah yang begitu vital sebagai seorang anak yang berbakti bagi  orang tuanya, sebagai seorang istri yang soleha bagi suaminya, serta bagi seorang ibu yang menjadi madrasatul ula bagi anak-anaknya. Rahim kehidupan, tempat asal manusia berawal. Tempat awal manusia hebat di tempa, dan tempat awal kebangkitan suatu bangsa.

Maka, sudah selayaknya di zaman yang serba canggih dan modern ini, istilah yang mengatakan bahwa wanita tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi karena hanya akan berujung terkongkong di bawah kendali suami, sangat layak untuk ditepis. Muslimah bukanlah budak peradaban. Bahkan Rasulullah SAW senantiasa memuliakan kaum wanita.

Muslimah kreatif yang mampu mengupgrade skill nya di era milenial ini juga banyak terjun dalam bidang pekerjaan yang memanfaatkan social media seperti youtuber, blogger, serta social media influencer.  Maka timbul sebuah kontradiksi, seberapa pentingnya pendidikan bagi seorang muslimah?. Dalam menjawab pertanyaan ini, penulis memandang bahwa pendidikan merupakan unsur penting yang harus didapatkan oleh seorang muslimah.



Pendidikan seorang anak tidak hanya menjadi tanggung jawab guru di sekolah, seorang ibulah yang seharusnya senantiasa memberikan pendidikan awal bagi seorang anak, kita bisa melihat beberapa kejadian saat pandemic Covid-19 ini, banyak orang tua terutama ibu-ibu yang mengeluh untuk mengajarkan anaknya di rumah, padahal jika memiliki kapasitas ilmu yang cukup dan kualitas pendidikan yang baik, maka seharusnya kegiatan belajar dari rumah ini menjadi sebuah momentum untuk kedekatan ibu dan anaknya. Jadi, penulis memandang tidak ada yang salah dengan menjadi muslimah yang berpendidikan tinggi serta meniti karir, asalkan tetap ingat akan fitrahnya sebagai perempuan untuk menjaga martabat diri dan keluarga. Asumsi ini diperkuat dengan legitimasi dalam surah An-Nisa ayat 4: 

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu” 

 Ayat di atas terbukti bahwa para wanitapun akan mendapatkan bagian dari apa yang mereka kerjakan, artinya dalam ayat ini terdapat bukti bahwa adanya hak bagi seorang muslimah  untuk bekerja dan menikmati hasil dari pekerjaanya. pada zaman Rasulullah SAW terbukti banyak wanita yang berpartisipasi dalam pekerjaan, tak terkecuali istri Rasulullah, bunda khadijah yang sangat terkenal dan piawai dalam mengelola perdagangan bahkan sampai ke level lintas Negara. Intinya, buat para muslimah hebat diluar sana, dan buat para muslimah yang sedang dalam keraguan di persimpangan jalan, jangan lupa bahwa fitrah kita sebagai rahim kehidupan. Sebab, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa wanita adalah tiang Negara, jika baik wanitanya maka baiklah negaranya, dan jika rusak wanitanya, maka rusak pulalah negaranya, jadi tetap bangga dan syukuri setiap peran yang telah Allah berikan kepada seorang muslimah dan menjalani kehidupan dengan tetap mengharapkan ridho Allah SWT, insyaallah setiap keikhlasan dalam menjalani peran akan mengantarkan kepada kesuksesan dunia dan keselamatan di akhirat.


Kamis, 16 Juli 2020

EFEKTIVITAS KULIAH KERJA NYATA (KKN) EDISI CORONA

Sebuah Pengantar

Tahun 2020, gerbang baru sejarah dunia dalam menguak  duka dan nestapa  yang terjadi akibat kedatangan makhluk kecil tak kasat mata yang tiba-tiba namanya menggetarkan penjuru dunia. Makhluk kecil tersebut tak lain adalah virus mematikan.  World Health Organization (WHO) kemudian menamai virus  ini sebagai Severe acute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS-CoV-2) dan nama penyakitnya Coronavirus Disease 2019 (Covid 19).[1]

            Sejak merebaknya pandemi yang disebabkan oleh virus Corona di Indonesia, banyak cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah penyebarannya. Salah satunya adalah melalui surat edaran Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Direktorat Pendidikan Tinggi No 1 tahun 2020 tentang pencegahan penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) di perguruan tinggi. Melalui surat edaran teresebut pihak Kemendikbud memberikan instruksi kepada perguruan tinggi untuk menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh dan menyarankan mahasiswa untuk belajar dari rumah masing-masing.[2]

            Kegiatan belajar mengajar yang sebelumnya dilaksanakan di kampus, kini hanya dilakukan secara online. Penggunaan teknologi  mobile memiliki kontribusi besar di dunia pendidikan, termasuk di dalamnya adalah pencapaian tujuan pembelajaran jarak jauh. Namun, Kulon yang merupakan akronim dari Kuliah Online, sampai pada masa penghujung semester. Mahasiswa semester 7 di masing-masing Universitas akan memasuki era lapangan mereka. Sayangnya, tahun ini terdapat perbedangan yang signifikan terkait Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Indonesia. Jika sebelumnya KKN merupakan euforia yang dinanti-nanti oleh para pengejar toga, kini euforia tersebut berubah menjadi sebuah sambutan kelam dari tirai Corona. Jika pembelajaran bisa dilakukan secara online, lantas bagaimana dengan KKN? Sebuah tanda tanya besar menghinggapi benak mahasiswa KKN 2K20, efektifkah KKN yang dilaksanakan di tengah pandemi saat ini?. Berikut penulis paparkan efektivitas KKN versi Corona.


KKN Edisi Corona

Penyebaran virus Corona  pada awalnya sangat berdampak pada dunia ekonomi yang mulai lesu, tetapi kini dampaknya dirasakan juga oleh dunia pendidikan. Kebijakan yang diambil oleh banyak negara termasuk Indonesia dengan meliburkan seluruh aktivitas pendidikan, membuat pemerintah dan lembaga terkait harus menghadirkan alternatif proses pendidikan bagi peserta didik maupun mahasiswa yang tidak bisa melaksanakan proses pendidikan pada lembaga pendidikan.[1]    

Seperti yang dilakukan oleh salah satu Universitas yang terletak di bumi lancang kuning. Tahun ini, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (Uin Suska Riau) tetap melepas mahasiswanya untuk KKN. Tentu bukan dengan tangan kosong, berbekalkan beberapa pengantar dan bimbingan dari masing-masing Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) mahasiswa Uin Suska Riau memulai Kuliah Kerja Nyata Dari Rumah Plus (KKN-DR-PLUS). Proker yang dikerjakan pun tentu berbeda dari KKN sebelumnya.

            KKN edisi Corona ini, harus memperhatikan protocol kesehatan dengan menggunakan masker ketika melaksanakan kegiatan di luar rumah, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, jaga jarak, dan menghindari kontak fisik seminim mungkin. Di tengah kondisi yang demikian, keefektivitas KKN sontak dipertanyakan. Disini, penulis ingin berbagi kiat KKN edisi corona yang tetap mengacu pada protocol kesehatan, namun tetap berkesan di mata masyarakat.

 

Penerapan 3P Jalur Alternatif KKN Efektif Versi Corona

Pemanfaatan Media Online

            Seperti halnya pembelajaran online, mahasiswa KKN juga harus memaksimalkan pemanfaatan media online. Misalnya dengan pembuatan konten kreatif, video animasi yang tetap bertemakan Covid 19, serta kreativitas lainnya yang bisa disalurkan lewat media online. Tujuan penggunaan media online ini tentu untuk meminimalisir kegiatan lapangan. Konten kreatif akan menarik perhatian warganet yang menjadi nilai plus KKN edisi Corona tahun ini. Mengapa demikian? Sebab konten yang diupluad di media online ini akan menjadi sebuah dokumentasi publik yang kapan saja bisa dikunjungi kembali. Selain itu, setiap postingan positif yang dibagikan akan mendatangkan manfaat bagi yang mempostingnya.

 

Proker Skala Kecil dengan Kontribusi Besar

            Peserta KKN tahun ini diharuskan untuk memutar otaknya guna mengeluarkan kreativitas proker yang akan mereka jalankan. KKN era Corona ini, memiliki keterbatasan dari segi kuantitas. Maksudnya, peserta KKN tidak bisa mengumpulkan massa dalam jumlah besar untuk dilibatkan dalam proker nya.

            Jadi, untuk efektivitas KKN, peserta KKN bisa mengaplikasikan proker dengan skala kecil namun memiliki kontribusi yang besar. Misalnya dengan pembagian masker, pembuatan disenfektan dan handsanitizer yang disalurkan kepada masyarakat sekitar lokasi KKN, proker perbaikan gizi masyarakat,  serta pembuatan teknologi tepat guna lainnya yang tidak memerlukan perkumpulan massa namun tetap memberikan kontribusi besar bagi masyarakat sekitar.

 

Pastikan Menjalin Relasi Kelembagaan.

Bagian terakhir ini merupakan sebuah keharusan. Sebab, melalui relasi dengan lembaga sekitar lokasi KKN, misalnya lembaga kesehatan, lembaga pemerintahan, lembaga pendidikan, maupun lembaga masyarakat, peserta KKN bisa mengetahui problematika yang terjadi di tengah masyarakat, tujuannya peserta KKN akan melatih kemampuan problem solving guna membantu masyarakat sekitar lokasi KKN. Selain itu, relasi dengan lembaga sekitar juga bisa mendatangkan berbagai masnfaat bagi peserta KKN. Bisa jadi, peserta KKN akan dilibatkan dalam kegiatan yang mereka laskanakan, atau malah sebaliknya, peserta KKN bisa melibatkan mereka ketika menjalankan proker. Sehingga kegiatan KKN yang dilakukan akan mendatangkan citra positif serta manfaat mendalam bagi masing-masing peserta KKN meskipun berada di tengah situasi pandemi saat ini.

Sebuah Penutup

Efektif tidaknya KKN yang dilaksanakan, dikembalikan lagi kepada diri masing-masing individu. Semuanya perlu diawali dengan niat, jika niatnya baik maka kesulitan dan beban seberat apapun pasti akan mampu diangkat. Intinya, kreativitas  dan produktivitas menjadi modal utama kegiatan KKN tahun ini. Sebagai penutup, semoga rekan-rekan KKN di seluruh Indonesia mampu mengemban tugas KKN dengan sebaik-baiknya dengan tetap menjaga nama baik almamater.

 

Sumber Referensi

Firman dan Sari Rahayu Rahman. 2020. Pembelajaran Online di Tengah Pandemi Covid-19.

 Vol 2, No 2

Yuliana. 2020. Corona Virus Disease (Covid 19) Sebuah Tinjauan Literatur, dalam  Jurnal

Wellnes and Healthy Magazine, Vol 2  No 1

 

Purwanto,Agus dkk. 2020.  Studi Eksploratif Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Proses

Pembelajaran Online di Sekolah Dasar, Vol 2, No 1



[1] Agus Purwanto, dkk, Studi Eksploratif Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Proses Pembelajaran Online di Sekolah Dasar, Vol 2, No 1, 2020, hal 2


[1] Yuliana, Corona Virus Disease (Covid 19) Sebuah Tinjauan Literatur, dalam  Jurnal Wellnes and Healthy Magazine, Vol 2  No 1, 2020, hal : 187-188

[2] Firman dan Sari Rahayu Rahman, Pembelajaran Online di Tengah Pandemi Covid-19, Vol 2, No 2, 2020, hal 81



Muslimah Sebagai Rahim Kehidupan

Dinamika interaksi diantara masyarakat dunia saat ini melahirkan berbagai perubahan budaya. Perubahan tersebut tidak hanya menyentuh persoal...