Dinamika interaksi diantara masyarakat dunia saat ini melahirkan berbagai perubahan budaya. Perubahan tersebut tidak hanya menyentuh persoalan teknis dan instrumental semata, tetapi juga telah merombak isu-isu subtsansial dalam tatanan kehidupan manusia, diantara perubahan tersebut ditandai dengan semakin meningkatnya jumlah wanita yang memasuki lapangan pekerjaan. Wanita karir kemudian menjadi sebuah cita-cita bagi para kaum hawa di zaman milenial ini sehingga banyak yang berupaya untuk menunjukan eksistensi diri di berbagai bidang pekerjaan.
Pada hakikatnya, Islam tidak membatasi para muslimah untuk berkarir, Islam hanyalah memberi panduan kepada para muslimah dalam bekerja dan berkarya agar mereka tidak lupa dengan fitrah serta peran mereka selaku seorang anak perempuan, seorang istri maupun seorang ibu bagi anak-anaknya kelak. Ungkapan muslimah sebagai rahim kehidupan sangat layak untuk disandang, mengingat peran muslimah yang begitu vital sebagai seorang anak yang berbakti bagi orang tuanya, sebagai seorang istri yang soleha bagi suaminya, serta bagi seorang ibu yang menjadi madrasatul ula bagi anak-anaknya. Rahim kehidupan, tempat asal manusia berawal. Tempat awal manusia hebat di tempa, dan tempat awal kebangkitan suatu bangsa.
Maka, sudah selayaknya di zaman yang serba canggih dan modern ini, istilah yang mengatakan bahwa wanita tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi karena hanya akan berujung terkongkong di bawah kendali suami, sangat layak untuk ditepis. Muslimah bukanlah budak peradaban. Bahkan Rasulullah SAW senantiasa memuliakan kaum wanita.
Muslimah kreatif yang mampu mengupgrade skill nya di era milenial ini juga banyak terjun dalam bidang pekerjaan yang memanfaatkan social media seperti youtuber, blogger, serta social media influencer. Maka timbul sebuah kontradiksi, seberapa pentingnya pendidikan bagi seorang muslimah?. Dalam menjawab pertanyaan ini, penulis memandang bahwa pendidikan merupakan unsur penting yang harus didapatkan oleh seorang muslimah.
Pendidikan seorang anak tidak hanya menjadi tanggung jawab guru di sekolah, seorang ibulah yang seharusnya senantiasa memberikan pendidikan awal bagi seorang anak, kita bisa melihat beberapa kejadian saat pandemic Covid-19 ini, banyak orang tua terutama ibu-ibu yang mengeluh untuk mengajarkan anaknya di rumah, padahal jika memiliki kapasitas ilmu yang cukup dan kualitas pendidikan yang baik, maka seharusnya kegiatan belajar dari rumah ini menjadi sebuah momentum untuk kedekatan ibu dan anaknya. Jadi, penulis memandang tidak ada yang salah dengan menjadi muslimah yang berpendidikan tinggi serta meniti karir, asalkan tetap ingat akan fitrahnya sebagai perempuan untuk menjaga martabat diri dan keluarga. Asumsi ini diperkuat dengan legitimasi dalam surah An-Nisa ayat 4:
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”
Ayat di atas terbukti bahwa para wanitapun akan mendapatkan bagian dari apa yang mereka kerjakan, artinya dalam ayat ini terdapat bukti bahwa adanya hak bagi seorang muslimah untuk bekerja dan menikmati hasil dari pekerjaanya. pada zaman Rasulullah SAW terbukti banyak wanita yang berpartisipasi dalam pekerjaan, tak terkecuali istri Rasulullah, bunda khadijah yang sangat terkenal dan piawai dalam mengelola perdagangan bahkan sampai ke level lintas Negara. Intinya, buat para muslimah hebat diluar sana, dan buat para muslimah yang sedang dalam keraguan di persimpangan jalan, jangan lupa bahwa fitrah kita sebagai rahim kehidupan. Sebab, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa wanita adalah tiang Negara, jika baik wanitanya maka baiklah negaranya, dan jika rusak wanitanya, maka rusak pulalah negaranya, jadi tetap bangga dan syukuri setiap peran yang telah Allah berikan kepada seorang muslimah dan menjalani kehidupan dengan tetap mengharapkan ridho Allah SWT, insyaallah setiap keikhlasan dalam menjalani peran akan mengantarkan kepada kesuksesan dunia dan keselamatan di akhirat.